
Di masa perang perlawanan, kedai yang dulu untuk minum teh dan ngobrol santai berubah menjadi pos intelijen, tempat perlindungan pengungsi, dan pusat perekrutan prajurit. Saat negara dalam bahaya, rakyat biasa maju bersama, memikul tanggung jawab berat dengan darah dan daging mereka.